ANTOLOGI PUISI KEREN
kumpulan puisi keren |
DIALOG SENJA
Berarah barisan camar pulang
Tak gundah ia dihempas angin
Seirama terbayang senja merah saga
Berangsur redup menyisakan pergi.
Kau kah itu, duhai keteduhan ?
Selalu membayangi kenangan silih berganti
Setia menembus batas cakrawala
Aku melayang dibuai selayang bayang.
Jikalau hidup sedemikian,
Tak rela rasanya senja dijemput malam
Itu kata senja yang kau ucap dalam dalam,
Melayang, membayang, memudar dan menyendiri.
Senja, air mengalir, menyendiri, jadi kenangan sepi
Sepi hati, sepi raga, sepi raba, sepi segala sepi
Rindu senja digerus angin tampak terkikis menepi
Tinggallah lebih lama kenangan senjaku.
Abdul Koni adalah seniman monolog Indramayu dan juga guru Bahasa Indonesia di SMKN 1 Lelea. Menulis adalah hobinya, ia implementasikan karya_karyanya pada webblog Coretanku. Tidak puas mempunyai web sendiri, ia mencoba membuat tulisan-tulisan itu berbicara melalui Youtube dengan karya_karyanya yang unik dan mempunyai subscribe fenomenal. Dan pembuktian yang nyata telah ia torehkan dengan membawa anak_anak teater asuhannya menjadi Juara Piala Gubernur dalam ajang Lomba Teater.
Ayah dari Noval Swarandhika Basae dan Michelle Clarache Caran Dache ini pantas dijuluki seniman monolog Indramayu.
DIA TIDAK ADA…
Karya: Ade Reni Sulastrina
Suara takbir yang menggema di semua penjuru
Ribuan kaki yang melangkah penuh suka cita
Tapi ada yang hilang diantara mereka
Dia tidak ada…
Dalam diam ku pejamkan mata
Ada asa yang tak pernah redup
Ada rindu yang tak hilang
Tapi dia tetap tdak ada…
Seikat bunga tergenggam erat
Menatap kosong tanah merah
Memelukmu walau hampa
Karena dia telah tiada…
Rindu ini tak pernah surut
Melekat kuat mengikat erat
Lantunan doa yang hanya terucap
Beristirahatlah dengan tenang ayah…
DI PENGHUJUNG RAMADHAN 1445 H
Bulan suci Ramadhan segera berakhir
Masa-masa sepertiga terakhir
Umat Islam untuk lebih mendekatkan diri
Kepada yang Maha Kuasa
Malam-malam yang tersisa
Malam-malam yang indah
Semua hamba bersimpuh dan bersujud
Agar terbebas dari api neraka
Memanfaatkan sisa waktu Ramadhan
Mengharapkan datangnya malam "Lailatul Qadar"
Agar senantiasa mendapatkan
Kebahagiaan dunia maupun akhirat
Jangan biarkan waktu, menit, bahkan detik
Di penghujung Ramadhan ini terbuang sia-sia
Jadikanlah akhir perjalanan Ramadhan ini
Penuh keberkahan dan dapat ampunan atas dosa-dosa
Aamiiin, aamiin, aamiin ya Robbal’alamiin.
“AKU HANYA SATU BULAN”
Oleh Ai Ratnasari, M.Pd.
Guru SMKN 1 Cikalongkulon
Ada gurat kesedihan mewarnai
Tatkala kehadiran selalu bergandengan dengan kata perpisahan
Sebulan sangatlah singkat
Saat kusadari Ramadan kan berakhir
Lambaianmu menyiratkan pilu
Diri yang tak khusyuk menyambut hadirmu
Terlena mengutamakan roh berasas hawa nafsu
Tergelincir berakhir mencuatkan penyesalan
Kau tertunduk senyuman kepergian menghiasi
Detik-detik batas akhirmu kian menggegas
Pergimu laksana keniscayaan
Membiarkan kami dipenuhi roman beragam
Ingin kucegah agar waktumu berlebih
Namun, katamu “Aku hanya satu bulan”
Senyumanmu menyiratkan kelak kan kembali
Lalu adakah jaminan aku masih di dunia?
Rabb, menjelang Ramadan kan berpulang
Karuniakan hamba seberkas bahagia
Beroleh ampunan-Mu
Memungut hikmah hingga derajat takwa kami warisi
Kamu kira kami akan lemah
Kamu pasti mengira kami akan lemah
Tiga puluh hari tanpa cinta bagimu
Namun kumandang azan azan itu adalah cinta kami
Kamu pasti mengira kami akan lemah
Dengan perburuan tak berujung
Merasakan yang disana tanpa ampun
Terbaring di atas tikar tikar papa
Namun ini adalah cinta bagi mereka
Kamu mengira tiga puluh hari ini jiwa kami mati
Namun kami bahkan semakin hidup
Semakin menguar cita berbagi
Tiga puluh hari bagi kami
Adalah hidup diantara lafaz-lafaz cinta ilahi
Mungkin tidak bagi mereka
Tapi bagi kami cinta itu
Adalah tiga puluh hari yang mulia ini
Segenggam Keteguhan
Karya: Ani Rohayani
Tuhan
Seberapa jauh aku melangkah
Seberapa jauh aku berlari
Tak kunjung sampai
Oh inilah hidup
Seolah kita selalu mendekat
Tapi mengapa selalu menjauh
Semakin melangkah
Semakin jauh dan jauh
Apa harapanku
Apa keinginanku
Di titik itu Aku terdiam
Hanya setitik pengharapan
Segenggam keteguhan
Yakin yakinlah
Hidup terus berjalan
Asa, harapan selalu ada
kebahagian selalu ada
Ramadhan
Oleh: Arif Rahman Hakim
Bahagia hatiku akan kedatanganmu
Pintu-pintu keberkahan dibukakan
Gerbang pengampunan dilebarkan
Pembebasan dari neraka ditawarkan
Ramadhan
Di mana saat bersenang-senang
Sekolah cuma setengah jalan
Sorenya ngabuburit berburu jajanan
Malamnya Shalat tarawih diberjamaahkan
mencari mana yang paling cepat secepat kilat
Sehabis teraweh
Tadarrus Al-Quran digemakan
Dikumandangkan di pengeras suara
agar dipandang bahwa aku memang bisa
Siangnya puasa mencari
Warung mana yang buka
Biasanya sebagian warung padang
Suka ada yang siap sedia
Ramadhan
Bulan yang dinanti
Bisa beli baju baru, baju lebaran
Setahun sekali sambil memaksakan
Karena, di akhir nanti ada hari nan fitri
Hari dimana berkumpul sanak saudara
Menghitung jumlah anak dan mantu
Membandingkan prestasi dan prestise
Antar ipar antar keponakan
Hari dimana saat itu
terkumpullah angapau di saku
Pemberian kakak, paman, bibi, uwa
Kakek dan nenek bahagia hatiku
Itulah Ramadhan di Negeriku
Berat rasanya jika harus berpisah dengan Ramadhan
Bulan dibukakan segala pintu keberkahan
Terlepas, apakah puasaku hanya menahan lapar dan dahaga
Sukabumi, 4 April 2024
Masa-masa sepertiga terakhir
Umat Islam untuk lebih mendekatkan diri
Kepada yang Maha Kuasa
Malam-malam yang tersisa
Malam-malam yang indah
Semua hamba bersimpuh dan bersujud
Agar terbebas dari api neraka
Memanfaatkan sisa waktu Ramadhan
Mengharapkan datangnya malam "Lailatul Qadar"
Agar senantiasa mendapatkan
Kebahagiaan dunia maupun akhirat
Jangan biarkan waktu, menit, bahkan detik
Di penghujung Ramadhan ini terbuang sia-sia
Jadikanlah akhir perjalanan Ramadhan ini
Penuh keberkahan dan dapat ampunan atas dosa-dosa
Aamiiin, aamiin, aamiin ya Robbal’alamiin.
“AKU HANYA SATU BULAN”
Oleh Ai Ratnasari, M.Pd.
Guru SMKN 1 Cikalongkulon
Ada gurat kesedihan mewarnai
Tatkala kehadiran selalu bergandengan dengan kata perpisahan
Sebulan sangatlah singkat
Saat kusadari Ramadan kan berakhir
Lambaianmu menyiratkan pilu
Diri yang tak khusyuk menyambut hadirmu
Terlena mengutamakan roh berasas hawa nafsu
Tergelincir berakhir mencuatkan penyesalan
Kau tertunduk senyuman kepergian menghiasi
Detik-detik batas akhirmu kian menggegas
Pergimu laksana keniscayaan
Membiarkan kami dipenuhi roman beragam
Ingin kucegah agar waktumu berlebih
Namun, katamu “Aku hanya satu bulan”
Senyumanmu menyiratkan kelak kan kembali
Lalu adakah jaminan aku masih di dunia?
Rabb, menjelang Ramadan kan berpulang
Karuniakan hamba seberkas bahagia
Beroleh ampunan-Mu
Memungut hikmah hingga derajat takwa kami warisi
Kamu kira kami akan lemah
Kamu pasti mengira kami akan lemah
Tiga puluh hari tanpa cinta bagimu
Namun kumandang azan azan itu adalah cinta kami
Kamu pasti mengira kami akan lemah
Dengan perburuan tak berujung
Merasakan yang disana tanpa ampun
Terbaring di atas tikar tikar papa
Namun ini adalah cinta bagi mereka
Kamu mengira tiga puluh hari ini jiwa kami mati
Namun kami bahkan semakin hidup
Semakin menguar cita berbagi
Tiga puluh hari bagi kami
Adalah hidup diantara lafaz-lafaz cinta ilahi
Mungkin tidak bagi mereka
Tapi bagi kami cinta itu
Adalah tiga puluh hari yang mulia ini
Segenggam Keteguhan
Karya: Ani Rohayani
Tuhan
Seberapa jauh aku melangkah
Seberapa jauh aku berlari
Tak kunjung sampai
Oh inilah hidup
Seolah kita selalu mendekat
Tapi mengapa selalu menjauh
Semakin melangkah
Semakin jauh dan jauh
Apa harapanku
Apa keinginanku
Di titik itu Aku terdiam
Hanya setitik pengharapan
Segenggam keteguhan
Yakin yakinlah
Hidup terus berjalan
Asa, harapan selalu ada
kebahagian selalu ada
Ramadhan
Oleh: Arif Rahman Hakim
Bahagia hatiku akan kedatanganmu
Pintu-pintu keberkahan dibukakan
Gerbang pengampunan dilebarkan
Pembebasan dari neraka ditawarkan
Ramadhan
Di mana saat bersenang-senang
Sekolah cuma setengah jalan
Sorenya ngabuburit berburu jajanan
Malamnya Shalat tarawih diberjamaahkan
mencari mana yang paling cepat secepat kilat
Sehabis teraweh
Tadarrus Al-Quran digemakan
Dikumandangkan di pengeras suara
agar dipandang bahwa aku memang bisa
Siangnya puasa mencari
Warung mana yang buka
Biasanya sebagian warung padang
Suka ada yang siap sedia
Ramadhan
Bulan yang dinanti
Bisa beli baju baru, baju lebaran
Setahun sekali sambil memaksakan
Karena, di akhir nanti ada hari nan fitri
Hari dimana berkumpul sanak saudara
Menghitung jumlah anak dan mantu
Membandingkan prestasi dan prestise
Antar ipar antar keponakan
Hari dimana saat itu
terkumpullah angapau di saku
Pemberian kakak, paman, bibi, uwa
Kakek dan nenek bahagia hatiku
Itulah Ramadhan di Negeriku
Berat rasanya jika harus berpisah dengan Ramadhan
Bulan dibukakan segala pintu keberkahan
Terlepas, apakah puasaku hanya menahan lapar dan dahaga
Sukabumi, 4 April 2024
Post a Comment for "ANTOLOGI PUISI KEREN"